Pilihan menjelajah Whirinaki memang bukan untuk relax & santai. Tantangan alamnya berat dan bisa berbahaya. Kejutan kejutan banyak ditemui. Namun bagi Pecinta Alam sejati, menyusur sungai menjelajah hutan Whirinaki akan menjadi perjalanan yang mengasikkan dan tak terlupakan.
Angin sejuk membelai wajah menerobos jendela mobil yang melaju. Sungguh menyegarkan. Kendaraan telah memasuki daerah dingin berkabut Murupara. Ketenangan serta suasana disini seolah menggandeng hadir kealam lain. Gerimis menyelimuti hutan Whirinaki (55.000 hektar) bagian dari Murupara di New Zealand.

Memasuki hutan perlu persiapan matang apalagi untuk orang kota. Kegiatan ini disebut Tramping. New Zealand juga dikenal dengan wisata alam lainnya seperti Hicking (bejalan posisi naik ), Climbing (lebih kearah memanjat), Camping (berkemah) dan Kayaking (mendayung). Masing masing orang berkewajiban menggendong ranselnya sendiri.Barang2 yang dibawa harus seperlunya saja. Dilengkapi Sleeping Bag, peta, kompas, pakaian, makanan, minuman, alat masak, senter,lilin, dll. Beban yang agak berat ditata di atas agar lebih nyaman bagi pinggang. Ukuran ransel harus sesuai tinggi tubuh. Kesalahan membawa beban berlebihan berakibat cukup sengsara. Semakin jauh semakin terasa berat.
Dari Pintu di River Road yang gampang dicari dipeta Murupara, hutan Whirinaki siap menyambut. Perjalanan dipeta tertulis 5 jam mencapai Central Whirinaki Hut, tempat bermalam.. Namun bagi yang tidak berpengalaman jangan berharap bisa mencapainya tepat waktu .
Melangkah melewati pintu beratap segitiga pakis2 menyalam indah, berderet bagai Peragawati memamerkan kakinya yg. jenjang menarik. Pakis/Fern semakin tua semakin tinggi. Daun daunnya mengering namun tidak mudah patah. Menggelantung kecoklatan. Daun hijaunya renik renik halus terstruktur. Enak untuk ditatap.
Pohon pohon Podocarp yang usianya ratusan bahkan ada yang ribu tahun bisa ditemui di Whirinaki. Di New Zealand memang ada pohon-pohon ribuan tahun yang masih berdiri teguh. Pohon Kauri tertua yang masih hidup mencapai 4000 tahun, dikenal dengan nama Tane Mahuta kebanggaan New Zealand.
Berjalan sejam masih terasa nyaman. Jalan setapaknya bersahabat. Gerimis masih rintik rintik. Itulah sebabnya ransel perlu dilapisi plastik dalamnya agar tak basah. Di New Zealand, tak mungkin menghindari hujan.
Banyak tumbuhan menarik lainnya. Ada jenis yang kalau disentuh dapat mengalirkan sengatan listrik. Juga Manuka kesukaan lebah yang menghasilkan madu terkenal Manuka Honey.
Setelah dua jam berjalan, Sungai tepat menghadang. Perjalanan mulai berat. Melewati bukit2 terjal. Jalan setapak selalu berada antara sungai dan bukit . Kerap kali bersisikan jurang dalam. Kalau tidak hati hati bisa tergelincir dan tertelan jurang dan sungai. Jalanan banyak ditutupi dedaunan gugur. Sepatu yang kurang cocok untuk medan ini bisa licin terpeleset. Jurang sekitarnya berpuluh meter dalamnya sebelum mencapai sungai. Ditambah lagi banyak pepohonan besar siap membentur kita. Belum lagi batuan2 disungai. Ngeri rasanya. Kemungkinan bahaya ini tentu bisa diantisipasi dengan persiapan yang mantap. Kondisi badan yang fit. Beban dan ukuran ransel yang tepat. Serta jangan lupa kotak PPPK. Kalau ragu jangan bimbang untuk mempersiapkan pemandu. Penting terutama bagi yang baru pertama kali.
Di sungai Whirinaki hidup Whio, bebek langka biru tua yang selalu berpasangan. Berduaan saja. Iri rasanya melihatnya. Binatang lain adalah rusa dan babi hutan serta berbagai serangga. Untuk menghadapi serangga perlu mempersiapkan lotion anti serangga. Tak ada binatang buas. Percaya atau tidak , dihutan dan disemak seperti apapun tak ada ular di New Zealand. Memang aneh. New Zealand bebas ular.
Perjalanan ke Central Hut ternyata dicapai 8 jam karena banyak berhenti mengambil foto. Tepat hampir gelap sampailah di Central Hut. Bangunan sederhana dari kayu. Ada 2 kamar tidur, ruang tengah dan serambi. Tak seorangpun berada di hut. Tak ada listrik. Cukup bersih, semua tamu punya beban moril untuk membereskan sebelum meninggalkan hut. Penyediaan airnya diatur dari tadah hujan. Selalu ada air karena selalu hujan. Tak ada kamar mandi. Toilet tanpa air tersedia 2 buah. Letaknya terlalu jauh. Ngeri rasanya melintas dimalam gelap menuju toilet.
Masing2 kamarnya ada 6 tempat tidur posisi susun. Tersedia busa berplastik. Semuanya rapi. Pemakai sebelumnya membereskan dengan baik. Barangkali rasa tanggung jawab seperasaan membuat semua disiplin. Ada kotak donasi sederhana. Diisi mata uang kecil, 5 NZD, 10 NZD dan koin2. Tak ada yang merusak dan mengambilnya.
Dapurnya sederhana, ada meja panjang dan lemari gantung. Anehnya dilemari tersedia aneka makanan, sambal kecap, teh, mie dll. Barangkali karena pengunjung terlalu berat membawa bekal saat pulang. Dimungkinkan memasak disana, asal membawa perlengkapan gas dan panci.
Malam ditengah hutan, jauh dari peradaban, tanpa TV, lampu dan lain2 memang sepi. Hanya ada jutaan bintang dilangit dan nyanyi sunyi tembang hutan. Kadang suara burung dan binatang membuat terasa aneh dan bertanya-tanya, alam mana ini? Perasaan takut menyelinap dihati. Tidur tanpa kunci dan siap bergabung dengan tamu lainnya yang mungkin datang, siapapun, motif apapun, memang membuat kita was-was. Sinar lilin ternyata menenteramkan hati. Malamnya panjang dan membuahkan pengalaman aneh, ngeri , curiga serta siaga.
Begitu sinar pagi mulai remang remang, bahagia rasanya. Masih seperti semula, masih lengkap, tas punggung, dompet, uang dan segalanya. Tak ada tamu lainnya.
Persiapan makan pagi dilakukan cepat, ke WC dan lain lain kebiasaan pagi tetap bisa dilaksanakan. Funny Tail, burung hitam dengan ekor berkembang putih menyapa lagi. Sejak perjalanan dia sering ramah menghampiri.
Perjalan lanjutan dimulai setelah membereskan semuanya seperti sedia kala . Makanan yang terlalu berat ditinggalkan untuk bisa dimanfaatkan tamu lainnya . Sampah2 dimasukkan plastik dan dibawa lagi. Tak ada sampah ditinggalkan. Perjalanan kepintu Plateau Road memang beda arah namun memiliki cerita yang hampir sama.
Mencapai pintu Plateau Road diselatan memberikan perasaan luar biasa. Apalagi melihat mobil sudah terpakir didepan. Nikmat, rasanya. Saat masuk ,mobil ditinggal di pintu River Road, diserahkan pada seorang pengantar dengan biaya 60 NZD.
Selain jalur perjalanan satu hari seperti yang kita tempuh, masih ada jalur 3 hari dan 5 hari. Tentu jauh lebih berat dalam menjelajah Whirinaki.
Kembali ke peradaban dengan pengalaman baru rasanya memang memuaskan. Ada rasa berat sewaktu menjalani, ada rasa nikmat setelah menyelesaikannya. Perasaan yang sama antara kita adalah bahwa kehidupan ini menjadi lebih berarti.
Rasanya beruntung masih hidup, sehat dan lengkap. Ingin mencoba, silakan dengan persiapan matang, jangan gegabah. Alam bisa ramah dan indah, tapi bisa juga menakutkan dan mengerikan.